Selasa, 11 Maret 2008

Pelajaran dari bocah penjual Koran

Pagi itu seperti biasa saya berangkat pagi setelah subuh dari rumah, ke tempat penyimpanan motor di bilangan cawang, uki, walau sering terlambat, kali ini saya datang labih awal ketempat menunggu bis antar jemput yang membawa saya ke kantor, saya menyukai naik bus jemputan karena lelah berkendara dari depok-cikarang. Tidak tahan kemacetan ibu kota.

Seperti biasa saya duduk bersama rekan rekan sambil menunggu jemputan. Tetapi karena saya datang lebih awal, munculah seorang bocah lelaki yang seperti biasa menawarkan Koran kepada semua penduduk shelter.

" Koran, Koran, Kompas, Media, tempo, republika, warta kota" begitu teriak bocah laki-laki tersebut menawarkan Koran kepada kami. "Koran bang" dia menawari ku untuk membeli Koran. "seperti biasa kompas satu" kataku meminta Koran yang biasa kubaca setiap pagi.

Tangan mungilnya dengan cekatan memilih Koran yang kuminta diantara tumpukan Koran dagangannya.
" ini bang Koran kompasnya" memberi Koran yang aku minta kepadanya, "nih ada kembaliaanya engga" kataku sambil menyodorkan uang Rp 50.000, kepadanya. "beres bang, pasti ada" segera dikeluarkan kembaliannya dari tas gembloknya yang kotor, "wah pagi-pagi uangnya dah banyak ya" kataku kepada bocah tersebut.

"Allhamdulilah bang, rejeki saya lagi lancar" katanya sambil tersenyum senang. Dan setelah itu diapun berlalu menawarkan Koran kepada para penghuni shelter lainnya.

Saat ini pukul 05.20, masih terlalu lama jemputan ku datang, maka saya menyempatkan membaca oran kompas yang tadi saya beli pada bocah tukang Korantersebut.

Tanpa sadar saya memperhatikan betapa gigih seorang bocah tukang Koran tersebut mencari uang, dengan menawarkan daganganya kepada semua orang yang datang dan pergi silih berganti.

Sepintas tampak keringat membasahi wajahnya yang tegar dalam usia beliaya harus berjuang memperoleh uang secara halal dan sebagai pekerja keras.

" Koran, mba ada tabloid nova, ada berita selebritisnya nih mba, atau ini tabloid bintang, ada kabar artis bercerai" katanya bagai seorang marketing ulung tanpa menyerah dia menawarkan Koran kepada seorang wanita setengah baya yang pada akhirnya menyerah dan membeli satu tabloid yang disebut sang bocah tersebut.

Sambil memperhatikan terbersit rasa kagum dan rasa haru kepada bocah tersebut, dan memperhatikan betapa gigihnya dia berusaha, hanya tampak senyum ceria yang membuat semua orang yang ditawarinya tidak marah. Tidak terdapat sedikit pun rasa putus asa dalam dirinya, walaupun terkadang orang yang ditawarinya tidak membeli korannya.

Sesaat mungkin bocah tersebut lelah menawarkan korannya, dan dia terduduk disampingku, "kamu engga sekolah dik" tanyaku kepadanya "engga bang, saya tidak ingin sekolah tinggi-tinggi" katanya.

"engga ada biaya dik' tanyaku menyelidik, "Bukan bang, walau saya tukang Koran saya punya cita-cita" jawabnya, "maksudnya, kan dengan sekolah kamu bisa mewujudkan cita-cita kamu dengan lebih mudah" kataku menjawab.

"Aku sering baca Koran bang, banyak orang yang telah sekolah tinggi bahkan sarjana tidak bekerja bang, alias nganggur. Mending saya walau sekolah tidak tinggi saya punya penghasilan bang" katanya berusaha menjelaskan kepadaku. "abang ku bang, tidak sekolah bisa buka agen Koran penghasilan sebulannya bisa 3-4 juta bang, saya baca di Koran gaji pegawai honorer Cuma 700ribu, jadi buat apa saya sekolah bang" tanyanya kepadaku

Saya mengerutkan kening, tertanda saya tekejut dengan jawaban bocah kecil tersebut pemikiran yang tajam, dan sebuah keritik yang dalam buat saya yang seorang sarjana. Dalam hati saya membenarkan perkataan anak tersebut, UMR kota bekasi saja +/-900rb untuk golongan smu.

Saya pun tersenyum mendengar jawaban anak tersebut, kemudian bus jenputan saya pun tiba dan saya meninggalkan bocah tersebut tanpa bisa menjawab pertanyaanya, apa tujuan kita sekolah, menjadi sarjana.?
Karena banyak sarjana sekarang yang begitu lepas kerja mengaggur, tidak punya penghasilan, dan banyak juga karena belum bisa bekerja yang melanjutkan S2 dengan alas an ingin mengisi waktu luang dan menambah nilai jual dirinya.

Tapi pernyataan bocah penjual Koran tersebut menyadarkan saya, tentang rejeki, dan tujuan dari bersekolah, yang saat ini saya mungkin kalah dengan bocah kecil tersebut, walau saya seorang yang mempunyai penghasilan dan mempunyai suatu jabatan saya hanyalah manusia gajian, saya hanya seorang buruh.

Beda dengan bocah kecil tersebut, dalam usia belia dia sudah bisa menjadi majikan untuk dirinya sendri. Sungguh hebat pemikiran lugu bocah penjual Koran tersebut. pembalajaran yang menarik dari seorang bocah kecil yang setiap hari kutemui.(EA)


 

"Rizky Tuhan sungguh tidak terbatas, tinggal kemauan kita untuk dapat berusaha menggapainYa"

"Pelajaran Dapat di peroleh tidak hanya di pendidikan formal, Dan dunia pun banyak memberi pelajaran untuk kita"


 

Depok 12 September 2007 21:59

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE


 

Minggu, 09 Maret 2008

Saya Tidak Punya Waktu..

Saat ini saya sedang terkejar deadline untuk membuat presentasi hasil audit yang akan dipresentasikan pada President direktur, dan saat ini seakan waktuyang saya punya tidaklah cukup, padahal Kita semua diberi anugrah oleh Tuhan YME berupa waktu yang sudah ditentukan lama dan tidaknya. Jatah waktu yang kita miliki tak dapat ditambah atau dikurangi.Waktu yang dimiliki semua orang jumlahnya sama. 24 jam sehari.


Tetapi yang menjadi persoalan bukan lama atau tidaknya kesempatan waktu yang kita miliki, melainkan seberapa pandai kita menggunakan waktu tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat bagi diri kita sendiri maupun orang lain dan alam semesta. Waktu adalah anugrah yang sangat berharga, jauh lebih bernilai dibandingkan materi sebesar apa pun. Demikian pentingnya waktu yang tak lain adalah nasib dan kehidupan kita sendiri. Bila kita menyia-nyiakan waktu, sama seperti kita mematikan masa depan dan membunuh diri kita secara perlahan. Oleh sebab itu manfaatkanlah waktu hanya untuk tujuan-tujuan yang positif.


sukses merupakan hasil dari kebiasaan. Oleh sebab itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperlancar bagaimana Anda menggunkan waktu, yakni dimulai dengan kebiasaan Anda (kontrol diri). Dan kebiasaan ini dimulai sebagai pembuatan keputusan secara sadar.


Penanaman disiplin akan waktu, menghargai waktu sejak kecil merupakan hal penting. Dengan demikian, ia akan terbiasa untuk mengatur hidupnya secara mandiri dan optimal untuk merencanakan berbagai macam aktivitas.


untuk melaksanakan manajemen waktu yang optimal, memang perlu ditunjang dengan adanya keinginan yang kuat, tindakan yang terus menerus, aktif, lapang dada, penuh optimisme, berpengetahuan luas, mampu memadukan berbagai pemikiran dan mampu mengendalikan emosi


dalam banyak kasus, sukses bukan dihasilkan dari hal yang tak biasa, tapi lebih sebagai hasil dari kemampuan seseorang untuk 'menguasai keduniawian'. Dengan konsisten menampilkan seluruh tugas penting yang belum sempurna, sejalan dengan waktu aktivitas ini akan berubah jadi pencapaian besar. Berikut beberapa tips sederhana yang dapat diikuti untuk melakukan pengaturan waktu yang lebih baik:


- Jangan Menangguhkan/Menunda.

Lakukan saat ini juga. Saat orang menunda sesuatu,itu berarti membunuh daya gerak pencapaian pada tujuan saat ini dan menghalangi kesempatan di masa mendatang lantaran waktu yang tersumbat. Cara untuk mencegah penundaan adalah dengan merancang deadline untuk tujuan yang harus dicapai. Menghindari deadline terakhir membawa penundaan yang diatur tujuan sebagai perantara untuk mencapai setingkat demi setingkat menuju tujuan.


- Ketahui Aktivitas Anda.

Memori adalah penuntun yang payah, jika ini berhubungan dengan menetapkan bagaimana Anda melewatkan waktu Anda. Cara terbaik untuk merekam aktivitas Anda sepanjang hari adalah dengan mendata apa yang Anda lakukan. Kebanyakan orang akan menemukan kalau mereka memiliki tiga jam dalam tiap hari yang sebenarnya dapat digunakan untuk hal yang lebih membangun atau tindakan yang efisiean. Kurangi waktu yang Anda gunakan untuk bertelepon, membolak-balik majalah atau surfing di web yang tak mengahasilkan apapun, dan batasi kegiatan-kegiatan yang tak penting.


- Buat Jadwal yang tepat.

Dalam memanfaatkan waktu yang efisien, pembuatan jadwal dalam agenda hidup, akan membantu kita lebih efektif dalam mengelola waktu dan mempercepat kita mencapai sukses


- Berkonsentrasi Pada Hasil.

Banyak orang melewatkan waktu mereka sepanjang hari dengan aktivitas yang hiruk-pikuk, tapi hanya sedikit membuahkan hasil. Itu semua terjadi karena mereka tak berkonsentrasi pada hal yang benar. Jangan terkecoh antara bekerja secara efisien dan bekerja secara efektif. Aktivitas dapat memang kadang dapat membebaskan dari tekanan tapi itu tak mencapai tujuan Anda. Dengan lebih berkonsentrasi pada sedikit preoritas 'utama' secara teratur. Anda dapat mencapai lebih banyak hal dalam waktu singkat.


- Gunakan Waktu Perjalanan Dengan Bijaksana.

Sangat mudah untuk mengabaikan waktu yang dilakukan untuk menempuh perjalanan dalam penafsiran manajeman waktu. Pertimbangkan dengan hati-hati apakah ini merupakan waktu yang sesuai dimana Anda dapat juga menggunakannya secara lebih produktif. Sebagai contoh, jika Anda memilih naik bus atau kereta untuk menuju tempat kerja, apakah ini menyediakan kesempatan untuk membuat penggunaan waktu Anda jadi lebih baik? Atau jika Anda nyetir sendiri, apa Anda bisa mendengarkan rekaman pendidikan atau motivasional yang dapat membuat Anda memperbaiki ketrampilan dan lebih produktif

- Bangun Rancangan Aksi.

Sebuah rencana tindakan merupakan daftar pendek dari tugas yang harus dilengkapi untuk mencapai sebuah tujuan dimana fokus utamanya adalah pencapaian tujuan dan langkah untuk mencapainya secara spesifik dari pada hanya membuat tujuan untuk dicapai dalam periode waktu. Kapanpun Anda ingin mencapai sesuatu, buat gambaran gamblang dari rencana tindakan, ini akan memberi Anda kesempatan untuk lebih berkonsentrasi pada tahap pencapaian itu, dan memonitor progress pencapaian.

- Merespon Dengan Cepat.

Menyelesaikannya urusan Ketika memungkinkan itu ada, lakukan tindakan pada hari yang sama saat Anda menerimanya. Jangan biarkan pikiran Anda jadi bertumpuk dengan hal yang tak berguna.


- Bersikap Tegas.

Belajarlah berkata tidak pada orang lain. Waktu Anda sangat berharga. Jadi jangan biarkan orang lain menentukan atau memanfaatkan Anda untuk kepentingan rencana mereka. Batasi gangguan sebisa mungkin. Tutup pintu Anda, matikan nada dering telepon atau minta dengan terus terang agar Anda tidak diganggu.


- Jadwalkan Waktu Untuk Bersantai.

Saat Anda mengatur waktu dan bisnis Anda, pastikan untuk menyisihkan saat untuk bersantai.


Dengan kita bisa memanfaatkan atau memanage waktu yang ada kita dapat menciptakan peluang yang lebih besar, peluang untuk usaha lebih baik, peluang untuk beribadah lebih baik, peluang untuk kerja lebih baik, atau peluang menajadi sukses akan dapat di capai lebih singkat jika kita bisa memanfaatkan waktu

Banyak waktu, kesempatan terbuang dengan sia-sia. Banyak potensi yang diabaikan begitu saja. Dan tidak sedikit keterampilan yang dibekukan. Hal tersebut terjadi karena ketidaktahuan akan tujuan hidup. Tidak tahu mau dibawa kemana raga, pikiran, dan harapan. Sangat disayangkan. Sementara waktu bergulir begitu cepat. Kalau tidak dicari bersiap-siaplah untuk terlunta-lunta. Tanpa tujuan yang jelas.

Untuk itu, kita harus sebaik mungkin memainkan hidup. Terampil merebut cita-cita, terampil menyusun rencana, , konsisten, dalam megatur waktu, karena waktu tidak akan bisa berputar kembali, sekali waktu terbuang, tak kan pernah waktu kembali. Lets' work hard and work wmart.Dengan kata lain, kita harus pandai-pandai meniti di atas titian waktu.


Orang yang sukses dan cerdas memanfaatkan waktu akan dapat mengerjakan banyak hal yang bermanfaat bagi kehidupannya, dan orang malas dan bodoh selalu membuang-buang waktu dengan sia-sia. dimana kah kategoi anda. Dan salah satu langkah awal untuk menggapai mimpi adalah anda harus bisa mengatur waktu yang ada.(EA)


Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: "Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang." (HR. Bukhari)


Depok 04 maret 2007

--
Best Regard

Erwin Arianto,SE


 

Rabu, 05 Maret 2008

Bermental Juara

Sering kali kita melihat sahabat yang tidak mempunyai semangat untuk ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau mempunyai standar yang rendah bagi dirinya sendiri. Hal tersebut merupakan menjadi kendala kesukseksan diri pada kita terutama di masa dewasa atau dapat dikatakan tidak mempunyai mental juara. Mempunyai mental juara tanpa perlu menjadi ambisius bukanlah sesuatu yang instan. Ada proses pembiasaan yang perlu dilakukan sejak dari saat ini.
Bermental juara tidak hanya merujuk pada kita yang mampu memenangkan kompetisi atau lomba tertentu. kita bisa dikatakan bermental juara pada saat kita berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Seringkali makna juara yang seperti ini kurang disadari oleh kita

Cara yang dapat ditempuh untuk memiliki mental juara ini adalah dengan mengajari diri kita untuk menghargai sekecil apapun prestasi yang kita miliki. Motivasi dan cita-cita dapat membantu kita untuk berhasil dalam setiap langkah atau apapun yang kita lakukan. Bermental juara juga dapat berarti kita yang tangguh menghadapi segala tantangan. kita perlu ditempa untuk siap menghadapi tantangan dan menjadi kita yang mandiri. kita perlu belajar bagaimana cara memecahkan masalh dengan tepat dan bijaksana.

Bermental juara dapat berarti juga kita yang mampu menghadapi kekalahan. Dalam hidup, seseorang tidak selalu menghadapi keberhasilan tetapi juga dalam saat-saat tertentu menghadapi kegagalan atau ketidakmulusan. Di sini kita perlu belajar bahwa diperlukan usaha untuk mengatasi ketidakberhasilan.

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari pembentukan mental juara antara lain:
- menjadi mandiri, tidak tergantung pada orang lain.
- menjadi percaya diri dalam melakukan segala sesuatu.
- kita tidak cepat putus asa dan mau mencoba lagi apabila mengalami kegagalan.
- menjadi pribadi yang terbiasa memecahkan masalah.

Aspirasi vs Ambisi
Konsep membentuk mental juara bukanlah dengan menuntut kita untuk selalu menjadi juara. harus hati-hati agar memotivasi kita tidak dilakukan dengan cara memaksa. Seringkali kita merasa bangga saat diri kita memenangkan sesuatu, sehingga yang dikejar adalah hasil, bukan proses. Hal tersebut yang bisa menciptakan kita ambisius, di mana kita hanya akan berorientasi pada pencapaian hasil. Apabila kita memahami pentingnya proses maka akan tercipta aspirasi di dalam diri kita. kita yang memiliki aspirasi akan terinspirasi
dan termotivasi untuk senantiasa melakukan yang lebih baik lagi.

Pada diri kita yang ambisius, kita akan sangat keras berusaha mencapai sesuatu akan tetapi di lain pihak kita akan cepat puas dan bangga pada yang diperolehnya dan berhenti hanya sampai di situ. Berbeda dengan aspirasi yang bersifat jangka panjang dibanding ambisi. Hal terpenting bukanlah menjadi juaranya, tetapi bagaimana usaha kita untuk mencapainya. kita tidak harus selalu menjadi juara, tetapi menjadi lebih baik dari yang dia lakukan selama ini. Sehingga kita lebih percaya diri dan siap menghadapi tantangan.

Mental juara dapat dibentuk dan dilatih sejak saat ini, terutama begitu kita mulai berinteraksi dengan dunia sekitarnya.dalam hal ini lingkungan sosial amat berpengaruh. Berikut ini tahap perkembangan dalam melatih mental juara:

Awal kehidupan kita ditandai dengan adanya trust (percaya) dan mistrust (ketidakpercayaan).
Trust atau rasa percaya menunjukkan adanya perasaan kenyamanan fisik dan sedikit rasa takut. Trust pada diri kita membentuk harapan dalam kehidupan bahwa dunia ini merupakan tempat yang nyaman. Jika kita tidak merasa nyaman dengan lingkungannya maka yang berkembang adalah rasa mistrust. Dalam membentuk mental juara dan memotivasi kita harus mementingkan kenyamanan dan kebahagiaan jangan sampai kita merasa terpaksa dan tidak enjoy terhadap apa yang dilakukannya.

1. Pada tahap awal ditandai dengan autonomy (otonomi atau kebebasan pribadi), shame (rasa malu) dan doubt (ragu-ragu).
Pada masa ini kita mulai menemukan dan mengembangkan tingkah laku. Jika kita diberi kesempatan untuk mencoba maka akan muncul otonomi. Tetapi jika kita
banyak diarahkan dan dilarang maka kita akan menjadi kita yang pemalu atau ragu-ragu. Pada usia ini cukup ideal untuk melepas kita memecahkan masalahnya sendiri, yang merupakan salah satu cara membentuk mental juara.

2. Pada masa tahap selanjutnya dengan initiative (inisiatif) dan guilt (rasa bersalah).
kita belajar untuk bertanggungjawab atas berbagai hal, Berkembangnya rasa tanggung jawab akan menanamkan rasa inisiatif pada kita. Sebaliknya akan muncul kita yang memiliki rasa bersalah dan cemas karena tidak memiliki rasa tanggung jawab dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri. Pengalaman dari lingkungan akan menjadikan kita memiliki rasa percaya pada dunianya, mandiri, penuh inisiatif, dan siap menghadapi apapun dalam dunianya. Hal-hal inilah yang merupakan esensi mental juara.

Dalam membentuk mental juara serta memotivasi diri ada beberapa hal yang perlu diwaspadai yaitu jika kita sering menjadi juara:
-kita yang selalu atau sangat sering menjadi juara kerap menjadi lebih down ketika mengalami kegagalan. Terlebih lagi jika orang-orang di sekitarnya bersifat menyalahkan, kita bisa merasa tidak berharga dan tidak diEXIT

cintai lagi karena sudah gagal. Hal tersebut yang biasanya terjadi apabila lingkungan kita lebih mengutamakan hasil daripada proses, akibatnya penghargaan diri kita menjadi relatif rendah.

-Munculnya sifat angkuh atau sombong pada diri kita yang sering menjadi juara. Sekecil apapun pencapaian kita perlu dihargai. Di sisi lain apa yang menjadi kelemahan atau kekurangan kita perlu dievalusi dan dicari solusinya. Pujian maupun evaluasi hendaknya diberikan secara proporsional. Dengan demikian kita tidak menjadi sombong tetapi masih mau berusaha untuk lebih baik di kesempatan yang akan datang.

- Adanya sifat individualis kita perlu dihindari ketika menanamkan mental juara. kita bermental juara justru mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. kita yang menghargai dirinya sendiri berdasar proses, biasanya juga akan menghargai orang lain. kita perlu belajar memahami siapa dirikita, mengetahui kita akan bisa mandiri tanpa melupakan hakikatnya sebagai makhluk sosial.

Mental juara pada kita dapat dibentuk atau dilatih oleh siapapun, termasuk diri kita yang pernah gagal atau tidak terlalu sukses. Apabila orangtua bisa memiliki kepribadian yang positif dan memiliki motivasi serta keinginan untuk mengembangkan kitanya dalam lingkungan yang sehat dan tidak ada paksaan, diharapkan kita bisa tangguh menghadapi tantangan dan mempunyai mental juara karena setiap kita mampu menjadi juara.(EA)
--

Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン
アリアント
(内部監査事務局)

Jumat, 29 Februari 2008

Berpikir Positif Dalam Melayani

Berpikir positif! Berpikir positif! Kalimat itu sering sekali didengar di kantor. Berulang-ulang. Apa pun yang terjadi, selalu berpikir positif! Apalagi atasan Neni. Beliau paling suka mengucapkan kalimat tersebut. Neni sih senang-senang saja mendengar kalimat tersebut. Betul juga sih. Manusia harus selalu berpikir positif. Kalau berpikir negatif terus, bisa-bisa wajah jadi kusut dan cepat tua.

Namun, tadi pagi, ada suatu peristiwa yang membuat Neni merasa tidak bisa lagi berpikir positif. Seorang pelanggan setia datang ke kantor. Beliau memang sering berkunjung. Sebagai petugas customer service, Neni menyambutnya, mempersilakan duduk dan menawarkan bantuan. Tidak seperti biasanya, pelanggan itu tidak bersikap santai dan gembira, tetapi dia datang dengan wajah kusut. Tanpa senyum lagi.

Neni tetap tenang. Setelah duduk, dia menawarkan minuman yang dijawab dengan gelengan kepala. Lalu tiba-tiba dia marah-marah. Neni sendiri masih bingung dan belum mengerti permasalahannya. Neni masih belum mengerti mengapa pelanggan ini marah-marah. Namun, dia tidak diberi kesempatan bertanya. Jangankan bertanya, mau mulai berbicara saja sudah langsung dipotong. Orang itu tidak berhenti marah-marah.

"Perusahaan macam apa ini? Tidak profesional!.Tahu ga mbak, saya tidak suka bekerja sama atau berhubungan dengan orang yang tidak profesional.Di kantor saya, semua bekerja secara profesional! Padahal karyawan saya 200 orang mbak. Namun, tidak ada yang mempemalukan perusahaan........."

Neni masih belum mengerti juga. Mungkin ekspresi wajah Neni tampak masih bingung dan tidak menanggapi sesuai harapan pelanggan tadi, maka orang itu semakin marah. Bahkan, kini mulai tampak menyerang Neni. "Kok bengong sih mbak?" Neni terkejut mendengar perkataan orang itu dan tidak bisa menjawab apa-apa. "Wah, pantas perusahaannya tidak
profesional. Karyawannya saja begini!", kata orang itu, lalu dia pergi.

Neni masih bengong sambil memandangi tamunya pergi. Perlahan-lahan mulailah emosinya muncul. Rasanya sakit hati sekali. Kurang ajar! Memangnya siapa sih dia??? Neni sangat kesal. Betul-betul sakit hati. Kasar amat ngomongnya. Neni sampai tidak tahan, lalu dia masuk ke dalam. Di depan gudang belakang dia menangis.

Kebetulan atasan Neni mendengar kejadian tersebut. Beliau langsung mencari Neni dan akhirnya menemukannya di depan gudang. Beliau mendekat dan berkata:" Dia bukan marah ke kamu."

Sambil menangis Neni menjawab: "Ke saya kok pak. Di sana tidak ada orang lain."
"Ya. Tapi dia bukan marah ke kamu."
"Jadi marah kepada siapa kalau bukan marah ke saya?" tanya Neni.
"Mungkin dia marah kepada dirinya sendiri, mungkin marah kepada perusahaan tempatnya bekerja, mungkin juga marah kepada atasannya, atau mungkin dia ada masalah pribadi yang kita tidak tahu. Sebenarnya dia patut dikasihani," kata atasannya.

Neni diam saja. Huh! Tapi kemudian Neni menurut ketika disuruh cuci muka dan memakai bedak lagi lalu kembali ke mejanya. Tentu saja Neni tidak bisa kerja lagi seperti biasa. Masih kesal. Padahal hari masih pagi, baru pukul 8.30.

Unek-unek
Saat itulah saya datang ke kantor Neni. Saya kenal baik dengan semua karyawan di sana karena saya rutin memberikan pelatihan di perusahaan tersebut. Melihat wajahnya yang tidak biasa, saya bertanya. Karena masih kesal maka Neni menceritakan semua unek-uneknya.

Saat itu saya teringat satu peristiwa yang pernah saya alami. Ketika anak saya baru berusia tiga tahun, seperti biasa kami pulang kampung naik pesawat. Dalam pesawat, saya dan anak saya mendapat tempat duduk dekat gang, bukan dekat jendela. Padahal anak saya suka sekali duduk dekat jendela. Maklumlah anak kecil. Tapi di dekat jendela telah duduk seorang bapak.

Karena anak saya merengek minta pindah, saya mencoba bertanya kepada bapak itu:"Selamat pagi pak. Maaf pak, apakah boleh tukar tempat duduk? Anak saya ingin duduk dekat jendela." Tapi bapak itu diam saja. Saya mengira dia tidak mendengar, maka saya ulangi lagi: "Pak, maaf. Apakah boleh bertukar tempat duduk?", dia masih diam saja.

Sebentar kemudian dia berkata dengan ketus dan singkat "Ga kelihatan apa-apa." Saya tersenyum sambil berkata: "Yah lumayan lah pak, bisa lihat awan. Atau kalau sedang lepas landas, kan bisa melihat keluar jendela."

Tiba-tiba dia membentak:"Tidak kelihatan apa-apa! Saya kan sering terbang."

Waktu itu saya juga terpancing sehingga saya berkata "Saya juga sering terbang." Lalu saya diam.

Kemudian saya minta pindah ke kursi di belakang yang kebetulan kosong sehingga anak saya bisa duduk dekat jendela. Lalu pramugarinya bertanya "Kenapa pindah bu?". Saya jawab "Saya malas di sebelah bapak itu."

Lalu pramugarinya bekata "Iya sih bu. Biasanya tidak ada orang yang mau duduk di sebelahnya. Namun, dia adalah pelanggan setia kami. Tiap minggu dia dua kali terbang ke Jakarta, dan selalu naik pesawat ini." Yang membuat saya kagum adalah sikap pramugari tadi kepada saya dan kepada bapak itu ternyata sama persis. Sama ramahnya.

Saya ceritakan kepada Neni, lalu saya tambahkan "Pramugari tadi tidak membiarkan perasaan dan pelayanannya dipengaruhi oleh sikap orang lain. Dia selalu berpikir positif." What about you?

Sumber: Berpikir Positif Dalam Melayani oleh Lisa Nuryanti, Managing
Director Expands Consulting

Belajar dari Kata-kata Mutiara


"Kata adalah senjata"
(Subcomandante Marcos, pejuang Zapatista Brazil)

Pekan lalu, seorang wartawan sebuah tabloid bisnis mewawancarai saya seputar perjalanan saya menjadi seorang penulis dan pembicara. Saya menceritakan kebiasaan saya di masa kecil. Saya punya hobi mengumpulkan kalimat serta kata-kata mutiara.

Pada masa itu, kalimat serta kata-kata mutiara itu sangat tidak mudah diperoleh sehingga harus mencari di perpustakaan. Mencari di koran maupun majalah yang penerbitannya tidak rutin. Tetapi, yang jelas, sejak kelas empat SD, saya senang mengumpulkan kalimat serta kata ajaib itu.

Saat duduk di kelas enam SD, penulis pujaan saya adalah Orison Swett Marden serta Dale Carnegie. Tulisan-tulisan mereka begitu menginspirasi. Salah satu kalimat dari Orison Swett Marden yang masih saya ingat adalah "Think big if you want to be BIG!" (Berpikirlah besar, jika kamu ingin menjadi orang besar!). Sampai-sampai, saya masih ingat ketika di kelas enam SD saya pernah mendapat nilai yang buruk di caturwulan II-nya.

Tapi, saya tahu itu karena kesalahan saya yang terlalu meremehkan dan tidak berusaha. Maka, saya pun menuliskan sebuah kata mutiara dalam hidup saya, "Orang yang tidak pernah berusaha, tidak boleh meratapi kegagalannya."

Kalimat mutiara adalah intisari kehidupan orang besar yang dirangkum dalam pendek dan berbobot. Tetapi, di balik sebuah kalimat yang pendek, ada pengalaman jatuh bangun kehidupan mereka yang luar biasa. Kita ambil contoh kisah Charles Sherwood Noble (1873-1957), seorang inovator pertanian terkemuka dari Alberta pada masanya.

Dia dibesarkan oleh tetangganya lantaran ibunya meninggal. Dia pernah sukses dan memiliki ribuan hektar tanah pada 1920. Tapi, akibat salah manajemen, dia jatuh pailit. Dia terpaksa bekerja pada sebuah bank untuk memberinya kredit. Tapi, dalam setahun dia mampu bangkit dari keterpurukannya.

Dia menulis, "You must have long term goals to keep you from being frustrated by short term failures." (Kamu harus punya tujuan jangka panjang, untuk menghindari dirimu dari frustrasi terhadap kegagalan jangka pendek).

Siapa pun membutuhkan motivasi dalam hidupnya. Kata-kata mutiara bisa membantu orang membangkitkan motivasinya. Bisa tentang cinta, persahabatan, kreativitas, orang tua, pendidikan, pemimpin, marketer, pebisnis, dan sebagainya.

Tak heran jika sebagian orang doyan mengumpulkannya. Orang besar macam Winston Churchill, mantan PM Inggris, juga menjadi kolektor kata-kata ini. Kata-kata itu dia baca berulang-ulang saat kesepian datang.

Memetik manfaat


Dari tokoh besar hingga orang kecil bisa memetik manfaat kata mutiara itu. Di buku motivasi sampai kertas teka-teki silang yang dibaca di warung-warung kopi pun terserak kata-kata ajaib itu. Bahkan, ada yang membuat saya terkekeh renyah. Di balik badan truk, ada ragam tulisan menarik. Misalnya, "Putus cinta, sudah biasa. Putus Rokok, jadi merana. Putus rem, matilah kita." Ada juga yang menulis, "Pergi karena tugas, pulang karena beras." Saya pikir kalimat itu mencerminkan filosofi sederhana dari hidup mereka di jalanan.

Melalui tulisan kali ini, saya ingin memberikan beberapa tips bagi Anda untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari kata-kata mutiara.

Pertama, kalau kata dan kalimat mutiara tersebut menggugah Anda, segera ketik atau pun simpan kalimat tersebut. Biasanya otak kita mudah melupakannya. Biasanya kita terinspirasi saat itu, tetapi pada saat kita ingin mengingat kalimat persisnya, kita jadi lupa. Jadi, ada baiknya dicatat, diketik, dan disimpan. Pensil yang tajam masih lebih baik daripada pikiran yang tajam, kata pepatah. Bagaimana pun, kalau disimpan, kapan pun bisa kita buka dan baca kembali. Menariknya, kalimat-kalimat mutiara ini tidak akan pernah bosan untuk dibaca berulang-ulang. Bahkan, semakin lama semakin dalam maknanya.

Kedua, jika ingin dikoleksi, simpanlah sesuai dengan temanya. Misalkan temanya adalah soal kegagalan, soal pertemanan atau soal menjadi orang tua. Pada saat Anda mengalami suatu masalah, dengan mudah kalimat mutiara ini bisa menjadi semacam motivator untuk Anda. Lagipula, menariknya koleksi ini kadang bisa kita pakai dalam pembicaraan, presentasi ataupun sambutan kita sehingga kalimat yang kita ucapkan menjadi lebih berbobot.

Ketiga, supaya bisa belajar lebih dalam dari kata-kata mutiaranya, adalah lebih menarik jika Anda kenal siapa yang mengatakannya. Misalkan ada kata bijak dari Sir Edmund Hillary, "Hai gunungku. Kamu sudah berhenti bertumbuh, sementara dalam diriku masih ada kemampuan dan kemauanku yang terus bertumbuh. Aku akan mengalahkanmu". Siapa Sir Edmund Hillary? Dialah orang yang pertama kali menaklukkan puncak Mount Everest bersama Tanzing Norgay. Dan kalimat itu diucapkan waktu pertama kali dia gagal dalam ekspedisinya.

Keempat, sebenarnya Anda sendiri bisa menciptakan kalimat mutiara Anda sendiri. Inilah yang juga saya lakukan dengan 'Diary Kehidupan' saya. Setiap hari, Anda boleh merumuskan dalam satu kalimat, apakah pelajaran penting yang Anda dapatkan dalam satu hari ini. Tidak perlu kalimat panjang. Cukup suatu kalimat yang mengintisarikan nilai pelajaran kehidupan yang baru saja Anda dapatkan hari ini, dari Tuhan. Suatu ketika, saat Anda baca kembali Anda akan kaget betapa banyak intisari hidup yang telah Anda kumpulkan.

Kelima, akhirnya, simpan dan bacalah secara periodik kalimat yang Anda kumpulkan. Percayalah, dibaca sekali, Anda akan dapat hiburan. Baca dua kali, Anda mendapat pemahaman dan bacalah tiga kali, dan Anda akan mendapatkan pencerahan. Bahkan tulisan-tulisan dalam rubrik motivasi ini pun bisa dikliping dan menjadi kekayaan hidup yang berharga.

Sumber: Belajar dari Kata-kata Mutiara oleh Anthony Dio Martin,
Director HR Excellency

Jumat, 22 Februari 2008

Ketika Daun-Daun Berguguran


Saat musim berubah, tiba saatnya daun-daun berguguran. Angin berhembus dingin terasa menyengat. Kelahiran dan kematian datang silih berganti bagai roda yang selalu berputar. Kelahiran selalu disambut dengan riang gembira pertanda datangnya kehidupan yang baru pada satu generasi. Namun ketika kematian tiba, derai air mata mengalir tiada henti, isak tangis terasa memilukan hati itulah saatnya tiba daun-daun berguguran.

Kemaren malam saya berkunjung ke rumah sakit, salah satu kerabat sedang dirawat. Ditengah asyik sedang membezuk, dikamar sebelahnya nampak dua gadis cantik berkerudung sedang khusyuk membaca al-qur'an. Lelaki tua terbaring lemah dengan tangan diinfus. Seorang ibu tertidur di bawah lantai.

Tak berapa lama terdengar isak tangis, kedua gadis itu memeluk sang ayah sambil mengucapkan, "ayah, ucapkan La ilaha illallah.." "ucapkan ayah.."kata gadis satunya lagi. Sang ayah mengikutinya, "La ilaha illallah" dengan nada terbata-bata. Suara jerit tangis terdengar menggema, lelaki tua yang dipanggil kedua gadis itu dengan sebutan ayah akhirnya tiada. Rasa haru menyelimuti didalam dada saya.

Ditengah perjalanan menuju pulang tanpa terasa air mata saya menetes, terbayang wajah Hana bagaimana kelak dewasa ketika saya menjelang senja. Mampukah saya mendidiknya menjadi anak yang sholehah? Apakah ketika detik-detik saya terakhir Hana juga mengingatkan saya untukmengucapkan kalimah tauhid?

Ditengah lamunan itu saya teringat Sabda Nabi SAW Kewajiban ayah dan ibulah untuk mendidik anaknya untuk menjadi anaknya yang sholeh. Sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW, "kullu mauludin yuladu `ala alfitrah, fa abawahu yuhawwidanihi au yunasshironihi au yumajjisanihi." Artinya "setiap bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah mereka menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi."


Dari kejauhan nampak Hana datang berlari menyambut saya sambil memeluk seolah sudah lama tidak ketemu. Senyum manis menghiasi dibibir mungilnya, Hana terlihat cantik. Wajah dan cara berjalannya mirip dengan saya.

-------------------------------------------
Hidup ini menjadi indah jika diri kita mampu mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh, sebab kehidupan tetap berjalan datang silih berganti kelahiran dan kematian hanya tiga hal kebaikan yang tidak akan terputus di dalam hidup ini yaitu anak yang sholeh, ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah.

Salam Cinta,
agussyafii

http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72

Rabu, 20 Februari 2008

JANGAN MENIKAH KARENA...

1. Jangan menikah karena harta
Tidak ada gunanya hidup bergelimangan harta tanpa cinta. Harta dapat datang dan pergi setiap saat. "Cinta" yang sesat dan sesaat dapat diperoleh setiap saat, tapi cinta yang sejati tidak dapat dibeli dengan harta.

2. Jangan menikah karena perasaan asmara
Rasa tertarik, simpati, naksir, yang merupakan asmara yang sering disalahartikan sebagai cinta. Asmara itu bukan cinta. Asmara dapat cepat berubah oleh rupa, harta, tempat dan keadaan. Asmara itu buta, tidak tahan lama dan tidak tahan uji . Cinta perlu diuji dalam suka dan duka dengan mata terbuka.

3. Jangan menikah karena rupa saja
Kecantikan yang diluar memang indah, tapi dapat luntur termakan umur.Utamakanlah kecantikan yang di dalam.

4. Jangan menikah karena iba
Iba (rasa kasihan) memang baik dan harus ada dalam hidup kita, tapi tidak boleh menjadi dasar pernikahan. Kasihan dapat habis, tapi kasih tidak berkesudahan. Dasar pemikahan adalah kasih, bukan kasihan

5. Jangan menikah untuk kepuasan sex saja
Memang sex suci dan penting dalam hubungan suami-istri, namun tidak boleh menjadi tujuan utama dari pemikahan. Sex hanyalah salah satu bagian dari pernikahan. Orang yang hanya mengejar kenikmatan sex akan kecewa dan terjerat oleh kesusahan yang diciptakannya sendiri.

6. Jangan menikah karena paksaan keluarga
Seorang anak harus berbakti kepada keluarga, namun tidak boleh menyerah dalam hal nikah, kalau mereka memang salah dan anda benar. Berdoalah dan berikanlah penjelasan kepada mereka, jangan dengan kekerasan.

7. Jangan menikah karena desakan usia
Bila semakin bertambahnya usia dan rekan-rekan sudah berpasangan, orang akan mulai gelisah (terutama pada wanita). Banyak orang akhimya asal tabrak dan sikat." Hindarilah tindakan tersebut. Sabarlah dan yakinilah bahwa Tuhan sudah menyediakan yang terbaik untuk anda. Jangan takut kehabisan jatah dan kadaluarsa.

8. Jangan menikah untuk membalas jasa
Orang yang telah berbuat baik perlu dibalas, tapi jangan dengan pernikahan.

Sumber : yulia@yamaha-motor-elec.co.id ;