Kamis, 24 April 2008

Perjalanan Membeli Tempe Ke Hongkong (Cara Membuat Tempe Dipatenkan)

Beberapa hari berkeliling di kota Guangzhou China saya menyempatkan diri mencicipi kuliner masakan khas restoran Indonesia yang bernama Pandan Indonesian Cuisine, yang berlokasi di Huan Shi Dong Lu Guangzhou, dan tiba di kota Humen Dongguan saya juga menyempatkan diri mencicipi masakan muslim ala China.

Pagi itu saya bersiap-siap menuju kota Shenzhen, sebuah kota perbatasan sebagai pintu gerbang memasuki Hongkong, perjalanan dari kota Shenzhen menuju Hongkong sangat mengasyikkan, belum banyak perubahan, suasananya masih sama seperti satu tahun lalu ketika saya berkunjung ke kota Shenzhen dan Hongkong.

Seperti biasanya sampai di Hongkong, saya menuju kota Causeway Bay, dan menginap di tempatnya koh A Hwie di Paterson Biulding, koh A Hwie adalah orang Malang yang sekarang sudah menetap di Hongkong dan mempunyai bendera bisnis adalah Starline Travel & Trading Co. Pagi harinya saya menyempatkan diri sarapan di restoran Indonesia, siangnya menyempatkan diri makan siang di restoran Indonesia khas Malang dan malam harinya menyempatkan diri tongkrongan di taman Victory, setahu saya Jacky Chan lahir dekat daerah Victory.

Perjalan keliling kota-kota di Hongkong seperti Causeway Bay, Admiralty, Central dan Mongkok bertujuan melihat langsung perkembangan trend fashion di Hongkong dan memang sungguh luar biasa melihat perkembangan trend fashion di Hongkong.

Setelah keliling-keliling tibalah saatnya saya berkunjung ke beberapa supermarket yang menjual khusus produk-produk Indonesia, diantaranya adalah Supermarket Wong Indonesia dan Indo Market. Dan yang sangat saya kangeni adalah tempe, dalam kesempatan tersebut saya memborong 5 pcs tempe sekaligus untuk saya bawa ke China, mengingat di tempat tinggal saya belum ada tempe, pendatang di tempat saya tinggal sangat sedikit sekali. Berbeda dengan Hongkong yang banyak terdapat TKW dari Indonesia, sehingga kebutuhan-kebutuhan produk dan masakan Indonesia masih tersedia.

Dalam kesempatan ini saya ingin menceritakan sejarah tempe yang pernah dimuat oleh Tablid Senior, sejarah kehadiran tempe diperkirakan lahir pada abad ke-19. Sebagaimana tertulis dalam Serat Centini yang terbit pada tahun 1815 di Keraton Solo, orang Jawa sudah memiliki budaya makan tempe. Dalam Encyclopedia van Nederlandsch Indie (1992), tempe dilukiskan sebagai kue dan merupakan makanan bersifat kerakyatan (volk's voedsel).

Setapak demi setapak popularitas tempe berkembang cukup pesat sampai ke luar negeri, kawula muda dan masyarakat kampus universitas di Amerika Serikat dan Eropa mulai menikmati tempe. Jangan kaget kalau anda menemukan tempe di supermarket di Paris. Sementara itu masyarakat Jepang, Malaysia dan Singapura mengkonsumsi tempe sebagai makanan diet.

Pengembangan tempe dapat bagi menjadi 3 generasi, yaitu :
1. Generasi 1, bentuk tempe dan rasa tempe masih tetap dan segar.
2. Generasi 2, tempe sudah diolah sehingga bentuknya berubah, namun rasanya tetap.
3. Generasi 3, tempe diproses lebih canggih dalam industri farmasi dengan mengisolasi senyawa-senyawa bioaktif yang ada, seperti ; isoflavonoid, superoksida desmutase dan asam amino.

Saat ini perkembangan tempe di Jepang dan Jerman sudah masuk generasi 2 dan 3, jika bangsa Indonesia tidak berbuat lebih serius, maka kita sekedar menjadi penonton, mereka yang diluar sanalah yang akan meraih keuntungan, mulai dari margin keuntungan industri sampai royalti paten. Padahal tempe adalah makanan asli Indonesia, lantas selalu begitukah nasib produk bangsa kita ?.

Beberapa khasiat tempe adalah sebagai berikut :
1. Menghambat proses penuaan.
2. Mencegah penyakit kanker.
3. Mencegah penyakit jantung koroner.
4. Menurunkan kolesterol.
5. Mencegah penyakit anemia.
6. Mencegah diare pada anak.
7. Melancarkan program diet.

(Sumber tulisan tempe : Buku Gaya Hidup Awet Muda, dari tempe sampai terapi doa, Team Redaksi Tabloid Senior).

Salam dari China,
Sang Pencinta Tempe,

Adib M
www.adibchen.com

Tidak ada komentar: